Kegiatan Live
In yang diadakan oleh sekolah ini sangat menarik perhatian saya. Disamping bisa
belajar berbagai hal, kita bisa terhibur dengan keadaan yang sepertinya bakal
menyenangkan. Sehari sebelum kegiatan, dibagikan buku kegiatan yang harus
diisi, serta baju Live in yang harus kami gunakan saat keberangkatan, kami
dikumpulkan di aula, dan sempat berfoto bersama sebelum berangkat. Kendaraan
yang digunakan adalah truk dengan pembagian masing-masing truk ditempati
sekitar 20 anak tiap truknya.
Dengan menggunakan
truk, kami dibawa ke desa Tambaksari yang berada di Pasuruan Purwodadi, disana
kami dikumpulkan di balai desa. Hari pertama kita dititipkan kepada orang tua
yang telah ditentukan, mereka menyambut kita dengan ramah dan baik. Orang –
orang di desa ini tampak ramah dan mengenal dengan baik tetangga serta
lingkungan tempat mereka tinggal. Dusun yang saya tempati adalah Tambakwatu,
terletak di bagian Utara Desa, dan memiliki jalan yang menanjak.
Saya
bersama satu teman saya bernama Felix mendapati rumah yang nyaman dengan keadaan
dan fasilitas seadanya, tanpa banyak barang elektronik dan dapur. Ya, di rumah
ini tidak memiliki alat masak elektronik seperti kompor atau oven, menggunakan
panci dan kayu bakar untuk memasak. Di depan rumah yang saya tempati, ada
lapangan voli sederhana yang dibuat tidak sesuai dengan aslinya, lebih kecil,
namun tetap menyenangkan untuk digunakan. Garisnya dibuat dengan kapur
sederhana, dan jaring tua yang masih tetap kuat berdiri di tengah-tengah garis
itu.
Kami
berkenalan dengan orang tua asuh yang kami tempati, dan di tempat saya yang
menempati adalah seorang perempuan yang sudah berumur 60 tahun bernama Misni
dan cucu perempuannya yang lucu berumur 5 tahun bernama Tiara. Disana rumah mereka ada dua, terpisah, di
rumah yang satunya lagilah mereka memasak. Di rumah sebelah, tinggal pemuda
berumur 23 tahun bernama Ridi, dan istrinya Nurul berumur 20 tahun yang
merupakan orang tua Tiara, lalu pemuda bernama Torik yang merupakan kakak
sepupu dari Tiara namun mereka jarang kelihatan karena sibuk bekerja. Misni
bekerja di ladang, Ridi di perusahaan, Nurul di pabrik sepatu, dan Torik yang
masih berumur 16 tahun sudah bekerja sebagai tukang kayu.
Walaupun
kehidupan disini sangatlah sederhana, namun mereka ramah dan sopan. Mereka
saling menyapa, saling peduli, saling membantu, dan saling bercanda tawa
bersama. Rumah yang saya tempati kebetulan dekat dengan teman saya, tepat di
depan dan sebelah depan rumah, jadi kita bisa berkumpul dan saling membantu.
Tempatku dan sebelahnya depan rumah yang kutempati memiliki ladang, dan rumah
yang satu lagi berternak sapi, ada 3 sapi dari yang mereka ceritakan.
Ada
banyak ayam, kucing, anjing, burung-burung peliharaan, dan sapi ternak yang
akan memecah keheningan dusun ini dengan suara yang lucu-lucu., terutama sapi
karena tidak biasa kami dengar. Setelah berkenalan dengan keluarga asuh, kami
membantu menyiapkan makanan dan makan dengan makanan yang telah ada sebelum
kami datang. Makanan yang sederhana, tempe, tahu, nasi, sayur bayam, namun karena
memasak menggunakan tungku perapian, jadi tidak ada minyak yang digunakan dalam
memasak. Kami makan bersama dan merasakan betul keakraban suasana seperti
keluarga sendiri, tertawa bersama, makan tanpa sungkan namun tetap sopan.
Setelah makan,
kami membersihkan peralatan makan, menyapu dan mengepel, lalu pergi untuk
berjalan-jalan melihat-lihat sekitar bersama dengan Tiara. Di pos kecil ada
teman kami yang sedang ngobrol bersama anak-anak dusun ini. Anak-anak cowok
sedang bermain catur, sedangkan yang cewek tampak senang bercanda bersama. Lalu
kami pergi melihat anak-anak dusun ini yang kebanyakan beragama Islam belajar
mengaji di Musholla menggunakan iqro. Mereka tampak senang dan belajar dengan
bersungguh-sungguh.
Saya banyak
melakukan kegiatan yang biasa dilakukan orang-orang di dusun ini, saya membantu
mereka mengambil air, mencangkul, menyabit, memasak dengan tungku perapian
dengan kayu bakar, mengangkat kayu bakar, dll. Saya juga sempat melihat-lihat
keadaan sekolah yang sederhana dengan guru yang tinggalnya dari berbagai tempat
yang jauh dari dusun ini. TK kecil sampai 6 SD dengan jumlah kelas tiap
angkatannya hanya satu kelas. Di tempat ini juga banyak terdapat tempat
menarik, seperti gua sejarah dan tempat jatuhnya meteor, Namun saya tidak
sempat melihat-lihat karena sibuk membantu.
Pemuda-pemuda
dusun ini setiap sore selalu menyempatkan diri bermain voli di lapangan depan
rumah yang saya tempati, mereka bermain dengan kemampuan yang hebat, dan tampak
kompak. Kebanyakan pemuda disini sudah bekerja dengan umur yang masih sangat
muda sekitar 14 atau 13 tahun. Walaupun permainan yang telah disiapkan gagal
dilaksanakan karena keterbatasan energi yang kami miliki, namun pada malam
sebelum kita pulang ada acara di balai desa yang menarik perhatian saya.
Dengan api
unggun, dipentaskan tari daerah, tarian seperti meniru banteng, dan tarian kuda
lumping, bahkan teman kami ada yang ikut juga menari. Dan di hari kepulangan
kami, kami berpamitan dengan keluarga sana sambil membawa foto kenang-kenangan.
Pengalaman yang sungguh luar biasa, bersama teman-teman kita saling
menceritakan pengalaman masing-masing. Kita dipulangkan dengan cara yang sama
yaitu dengan truk sampai ke sekolah.
No comments:
Post a Comment