Wednesday, October 24, 2012

Rio Prayogo XIA1-40


Kegiatan Live In yang diadakan oleh sekolah ini sangat menarik perhatian saya. Disamping bisa belajar berbagai hal, kita bisa terhibur dengan keadaan yang sepertinya bakal menyenangkan. Sehari sebelum kegiatan, dibagikan buku kegiatan yang harus diisi, serta baju Live in yang harus kami gunakan saat keberangkatan, kami dikumpulkan di aula, dan sempat berfoto bersama sebelum berangkat. Kendaraan yang digunakan adalah truk dengan pembagian masing-masing truk ditempati sekitar 20 anak tiap truknya.
Dengan menggunakan truk, kami dibawa ke desa Tambaksari yang berada di Pasuruan Purwodadi, disana kami dikumpulkan di balai desa. Hari pertama kita dititipkan kepada orang tua yang telah ditentukan, mereka menyambut kita dengan ramah dan baik. Orang – orang di desa ini tampak ramah dan mengenal dengan baik tetangga serta lingkungan tempat mereka tinggal. Dusun yang saya tempati adalah Tambakwatu, terletak di bagian Utara Desa, dan memiliki jalan yang menanjak.
                Saya bersama satu teman saya bernama Felix mendapati rumah yang nyaman dengan keadaan dan fasilitas seadanya, tanpa banyak barang elektronik dan dapur. Ya, di rumah ini tidak memiliki alat masak elektronik seperti kompor atau oven, menggunakan panci dan kayu bakar untuk memasak. Di depan rumah yang saya tempati, ada lapangan voli sederhana yang dibuat tidak sesuai dengan aslinya, lebih kecil, namun tetap menyenangkan untuk digunakan. Garisnya dibuat dengan kapur sederhana, dan jaring tua yang masih tetap kuat berdiri di tengah-tengah garis itu.
                Kami berkenalan dengan orang tua asuh yang kami tempati, dan di tempat saya yang menempati adalah seorang perempuan yang sudah berumur 60 tahun bernama Misni dan cucu perempuannya yang lucu berumur 5 tahun bernama Tiara.  Disana rumah mereka ada dua, terpisah, di rumah yang satunya lagilah mereka memasak. Di rumah sebelah, tinggal pemuda berumur 23 tahun bernama Ridi, dan istrinya Nurul berumur 20 tahun yang merupakan orang tua Tiara, lalu pemuda bernama Torik yang merupakan kakak sepupu dari Tiara namun mereka jarang kelihatan karena sibuk bekerja. Misni bekerja di ladang, Ridi di perusahaan, Nurul di pabrik sepatu, dan Torik yang masih berumur 16 tahun sudah bekerja sebagai tukang kayu.
                Walaupun kehidupan disini sangatlah sederhana, namun mereka ramah dan sopan. Mereka saling menyapa, saling peduli, saling membantu, dan saling bercanda tawa bersama. Rumah yang saya tempati kebetulan dekat dengan teman saya, tepat di depan dan sebelah depan rumah, jadi kita bisa berkumpul dan saling membantu. Tempatku dan sebelahnya depan rumah yang kutempati memiliki ladang, dan rumah yang satu lagi berternak sapi, ada 3 sapi dari yang mereka ceritakan.
                Ada banyak ayam, kucing, anjing, burung-burung peliharaan, dan sapi ternak yang akan memecah keheningan dusun ini dengan suara yang lucu-lucu., terutama sapi karena tidak biasa kami dengar. Setelah berkenalan dengan keluarga asuh, kami membantu menyiapkan makanan dan makan dengan makanan yang telah ada sebelum kami datang. Makanan yang sederhana, tempe, tahu, nasi, sayur bayam, namun karena memasak menggunakan tungku perapian, jadi tidak ada minyak yang digunakan dalam memasak. Kami makan bersama dan merasakan betul keakraban suasana seperti keluarga sendiri, tertawa bersama, makan tanpa sungkan namun tetap sopan.

Setelah makan, kami membersihkan peralatan makan, menyapu dan mengepel, lalu pergi untuk berjalan-jalan melihat-lihat sekitar bersama dengan Tiara. Di pos kecil ada teman kami yang sedang ngobrol bersama anak-anak dusun ini. Anak-anak cowok sedang bermain catur, sedangkan yang cewek tampak senang bercanda bersama. Lalu kami pergi melihat anak-anak dusun ini yang kebanyakan beragama Islam belajar mengaji di Musholla menggunakan iqro. Mereka tampak senang dan belajar dengan bersungguh-sungguh.
Saya banyak melakukan kegiatan yang biasa dilakukan orang-orang di dusun ini, saya membantu mereka mengambil air, mencangkul, menyabit, memasak dengan tungku perapian dengan kayu bakar, mengangkat kayu bakar, dll. Saya juga sempat melihat-lihat keadaan sekolah yang sederhana dengan guru yang tinggalnya dari berbagai tempat yang jauh dari dusun ini. TK kecil sampai 6 SD dengan jumlah kelas tiap angkatannya hanya satu kelas. Di tempat ini juga banyak terdapat tempat menarik, seperti gua sejarah dan tempat jatuhnya meteor, Namun saya tidak sempat melihat-lihat karena sibuk membantu.
Pemuda-pemuda dusun ini setiap sore selalu menyempatkan diri bermain voli di lapangan depan rumah yang saya tempati, mereka bermain dengan kemampuan yang hebat, dan tampak kompak. Kebanyakan pemuda disini sudah bekerja dengan umur yang masih sangat muda sekitar 14 atau 13 tahun. Walaupun permainan yang telah disiapkan gagal dilaksanakan karena keterbatasan energi yang kami miliki, namun pada malam sebelum kita pulang ada acara di balai desa yang menarik perhatian saya.
Dengan api unggun, dipentaskan tari daerah, tarian seperti meniru banteng, dan tarian kuda lumping, bahkan teman kami ada yang ikut juga menari. Dan di hari kepulangan kami, kami berpamitan dengan keluarga sana sambil membawa foto kenang-kenangan. Pengalaman yang sungguh luar biasa, bersama teman-teman kita saling menceritakan pengalaman masing-masing. Kita dipulangkan dengan cara yang sama yaitu dengan truk sampai ke sekolah.


No comments:

Post a Comment