Tuesday, October 23, 2012

Live In di Tambaksari by Jessica Aurellia XIA1-24


Ketika mengetahui pada kelas 11 ini ada kegiatan live in, saya merasa tidak semangat untuk mengikutinya. Saya membayangkan jika saya tinggal di rumah orang asing, tidur dengan mimbar-mimbar bambu, toilet dengan keadaan yang sangat minim, dan hal-hal yang lainnya. Tetapi saya mulai memberanikan diri saya dan mengikutinya pada tanggal 11 sampai 13 Oktober 2012. Tahun ini, sekolah mengadakannya di desa Tambaksari, Purwodadi, Pasuruan. Waktu untuk menempuh sekitar 1 jam 30 menit.

Hari pertama
Murid-murid SMAK Santa Maria yang mengikuti kegiatan live in dikumpulkan di sekolah untuk mendapatkan penjelasan dari pendamping-pendamping. Saat menerima penjelasan, semua murid sudah merasa was-was dan penasaran bagaimana rumah yang akan ditempati (termasuk saya). Kita berangkat pada pukul setengah 10 pagi setelah foto bersama dengan guru-guru.

Kita berangkat menggunakan kendaraan kebanggaan SMAK Santa Maria, yaitu truk tentara. Dengan jarak tempuh sekitar 1 setengah jam, akhirnya kita sampai di desa Tambaksari dan langsung turun di Balai Desa Ampelsari. Saat itu saya lega karena desa yang akan kita tempati ternyata tidak seburuk yang telah saya pikirkan sebelumnya. Acara penyambutan oleh bapak kepala desa diikuti dengan penjamuan makanan ringan yang cukup mengenyangkan perut-perut kami yang telah memberontak dari pagi.

1 jam setelah kita berada di balai desa, kami mulai didistribusikan ke dusun-dusun yang akan kita tinggali, kebetulan saya terdapat pada Dusun Tambakwatu dan teman-teman saya ada di dusun Krai, Gunung Malang, dan Ampelsari. Untuk ke Dusun Tambakwatu, diperlukan waktu 15 menit jika mengendarai mobil. Katanya, Dusun Tambakwatu adalah dusun yang masih kuat magisnya. Sesampainya kita di Dusun Tambakwatu, kita diturunkan di rumah seseorang warga yang akan menjadi basecamp kita pada hari-hari selanjutnya. Dengan menunggu waktu sekitar 30 menit, ibu asuh saya menjemput saya.

Ibu asuh saya bernama Ibu Supiyah. Rumah Ibu Supiyah terletak di dekat pekarangan. Sebelah kiri dan depan rumah merupakan pekarangan dengan minim penerangan. Saya membayangkan jika malam tiba pasti sangatlah gelap. Setibanya saya di rumah Ibu Supiyah, saya disuguhi teh, pisang, dan jajanan-jananan pasar lainnya. Saya serumah dengan Laura, Natasha, dan Pianka. 1 jam setelah kita tiba di rumah Ibu Supiyah, kita diajak makan siang bersama.

Setelah kita makan, kita beramah-tamah dengan Ibu Supiyah. Kesan pertama saya terhadap Ibu Supiyah adalah wanita ini kaku dan tidak terlalu suka untuk berbicara. Ibu Supiyah tinggal bersama anaknya yang bernama Koir. Tetapi anaknya tidak terlalu sering berada di rumah. Suami Ibu Supiyah bekerja sebagai pegawai di Restoran Porong yang menyebabkan ia jarang berada di rumah. Ibu Supiyah tidak mempunyai pekerjaan, tetapi ia mempunyai 3 ladang. Terkadang, ia pergi ke ladangnya untuk memanen tanaman yang telah ditanamnya.

Pada pukul 3 sore, saya dan Natasha pergi ke rumah teman-teman kami karena kami merasa bosan di rumah karena tidak ada pekerjaan. Kami bermain di rumah teman-teman saya yang berjarak sekitar 500 m dari rumah saya. Kebetulan, di dusun saya merupakan dusun yang paling terbanyak anak dari sekolah saya. Jadi saya tidak merasakan kesepian. Setelah bermain dengan teman-teman saya sekitar 1 jam, saya pulang ke rumah untuk mandi dan segera bersiap-siap untuk pergi kumpul di rumah Kepala Camat.

Air di Dusun Tambakwatu ini sangatlah minim, karena dusun ini sangat kering sehingga menyebabkan penduduk dusun ini untuk menyimpan air di bak-bak kamar mandinya. Air di rumah saya sangat dingin sehingga menyebabkan saya untuk cepat menyelesaikan mandi saya. Setelah saya mandi, saya pergi ke rumah teman saya. Saya meninggalkan rumah pada jam 5, suasana saat itu sudah seperti malam hari, yaitu mulai gelap dengan penerangan yang sangat minim.

Kami pergi ke rumah Kepala Camat, di sana saya tidak seberapa mendengarkan apa yang beliau katakan karena saya cukup mengantuk dan capek. Sepulang dari rumah Kepala Camat, Natasha tidak berani pulang, karena ia takut. Begitu pula dengan saya, jadi saya memutuskan untuk kabur dari rumah dan menginap di rumah teman saya.

Hari Kedua
Pagi harinya, saya bangun jam 5.30 dan langsung pulang ke rumah saya. Saya meminta maaf kepada ibu asuh saya dan langsung membantunya memasak di dapur. Kami memasak tahu goreng, indomie, dan telur mata sapi untuk sarapan kami. Setelah makan, kami berangkat ke ladang Ibu Supiyah yang terletak di puncak gunung. Kita menempuh perjalanan dengan waktu 15 menit dengan jalan kaki.

Setibanya di ladang, kami langsung mengambil lombok yang telah ditanam oleh Ibu Supiyah sedangkan ia memungut serpihan kayu yang berguna untuk pengganti minyak tanah. Jadi ia tidak perlu menyiram minyak tanah pada kayu yang akan digunakan untuk memasak, tapi cukup dengan membakar serpihan kayu tersebut. Setelah dirasa cukup mengambil serpihan kayu dan lombok, kami pulang dan langsung mandi dan beristirahat.

Pada siang harinya kita tidak bekerja apapun dan hanya membantu Ibu Supiyah memasak, Ibu Supiyah memasak udang dan tahu untuk dijadikan sebagai makan siang. Maka saya membantu mengupas kulit udang dan masak di dapur Ibu Supiyah. Setelah kita masak, kita langsung makan siang bersama dan langsung menyuci peralatan makanan yang kita gunakan.

Sesudah kita makan, kita pergi ke rumah tetangga-tegangga sebelah kita untuk meminta tanda-tangan dan langsung pulang ke rumah untuk siap-siap bermain Treasure Games. Saya penasaran dengan permainan ini, karena dari namanya sudah seperti mencari harta karun dan penjelasan dari guru saya ketika di sekolah sangatlah asik. Tetapi setelah kita bermain, jauh sekali dengan pandangan kita seharusnya. Kita hanya bermain pipa, bambu, dan kelereng dan saya bingung, jika bermain seperti itu dari mana kata Treasure nya.

Kita pulang pada pukul 15.30 dan segera bersiap-siap ke Balai Desa untuk menghadiri Farewell Party. Saya segera pulang, mandi, dan berkumpul di base camp. Pada saat itu, banyak guru kami sedang berada di dusun saya. Lalu saya ikut kepala Sekolah untuk pergi ke Desa Krai, kebetulan di desa tersebut ada teman-teman saya dan saya ikut di Desa Krai pada sore itu. Kita berangkat ke Balai Desa pada jam setengah 7 menggunakan bus.

Di Balai Desa, kami disuguhi makanan malam, tetapi banyak dari kami yang tidak makan karena sudah makan di rumah masing-masing. Kebetulan pada acara tersebut saya sakit yang menyebabkan saya beristirahat di Balai Desa sedangkan teman-teman saya melihat pertunjukkan kuda lumping dan atraksi-atraksi lainnya. Pada malam itu, saya dibawa ke rumah guru saya karena saya sakit. Saya tidur bersama Natasha di rumah guru saya.

Hari Ketiga
Pada pagi harinya saya merasa cukup sehat sehingga saya pulang ke dusun saya dan pulang ke rumah saya, saya mandi dan beristirahat di rumah saya. Setelah saya mandi, kita makan pagi bersama-sama dengan sayur dan sisa makanan kemarin siang, dan langsung mencuci peralatan makan kita. Pada hari itu, seharusnya kita jelajah dusun, tetapi kegiatan itu bersifat tidak wajib jadi saya tidak mengikutinya. Saya pergi keliling Desa Tambaksari dengan teman-teman saya dengan mengendarai sepeda motor milik warga.

Pada perjalanan ke Gunung Malang, saya bertemu dengan pendamping saya dan saya ikut dengannya untuk keliling dusun ke dusun. Saya pergi ke Dusun Krai dan mengambil foto siswa-siswa di tiap-tiap rumah.

Pada jam setengah 12 saya kembali ke dusun saya dan langsung mengambil koper saya dan berpamitan dengan ibu asuh saya untuk kembali ke Malang, setelah berpamitan saya pergi ke base camp untuk mengumpulkan anak-anak dan mendata anak yang sudah datang. Sekitar jam 1, kita semua sudah siap dan langsung pergi ke balai desa menggunakan truk. Lalu kita pulang ke Malang dan sampai dengan selamat.

Menurut saya, kegiatan live in ini berguna bagi tiap pribadi siswa. Tetapi ada anak yang mendapatkan rumah bagus dan tidak mendapatkan pekerjaan yang berat dan di rumah tidak mengerjakan apa-apa. Di rumah saya, saya termasuk orang yang tidak mengerjakan apa-apa. Jadi saya kurang mendapatkan kesan live in yang sebenarnya.

Di kegiatan live in ini, kita belajar untuk menjadi orang sederhana dan apa adanya, kita juga belajar bagaimana untuk berkomunikasi dengan orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya, kita juga harus berinteraksi dengan orang yang tidak kita senal sebelumnya. 










No comments:

Post a Comment