Ketika
mengetahui pada kelas 11 ini ada kegiatan live in, saya merasa tidak semangat
untuk mengikutinya. Saya membayangkan jika saya tinggal di rumah orang asing,
tidur dengan mimbar-mimbar bambu, toilet dengan keadaan yang sangat minim, dan
hal-hal yang lainnya. Tetapi saya mulai memberanikan diri saya dan mengikutinya
pada tanggal 11 sampai 13 Oktober 2012. Tahun ini, sekolah mengadakannya di
desa Tambaksari, Purwodadi, Pasuruan. Waktu untuk menempuh sekitar 1 jam 30
menit.
Hari pertama
Murid-murid
SMAK Santa Maria yang mengikuti kegiatan live in dikumpulkan di sekolah untuk
mendapatkan penjelasan dari pendamping-pendamping. Saat menerima penjelasan,
semua murid sudah merasa was-was dan penasaran bagaimana rumah yang akan
ditempati (termasuk saya). Kita berangkat pada pukul setengah 10 pagi setelah
foto bersama dengan guru-guru.
Kita
berangkat menggunakan kendaraan kebanggaan SMAK Santa Maria, yaitu truk
tentara. Dengan jarak tempuh sekitar 1 setengah jam, akhirnya kita sampai di
desa Tambaksari dan langsung turun di Balai Desa Ampelsari. Saat itu saya lega
karena desa yang akan kita tempati ternyata tidak seburuk yang telah saya
pikirkan sebelumnya. Acara penyambutan oleh bapak kepala desa diikuti dengan
penjamuan makanan ringan yang cukup mengenyangkan perut-perut kami yang telah
memberontak dari pagi.
1
jam setelah kita berada di balai desa, kami mulai didistribusikan ke
dusun-dusun yang akan kita tinggali, kebetulan saya terdapat pada Dusun
Tambakwatu dan teman-teman saya ada di dusun Krai, Gunung Malang, dan
Ampelsari. Untuk ke Dusun Tambakwatu, diperlukan waktu 15 menit jika
mengendarai mobil. Katanya, Dusun Tambakwatu adalah dusun yang masih kuat
magisnya. Sesampainya kita di Dusun Tambakwatu, kita diturunkan di rumah
seseorang warga yang akan menjadi basecamp kita pada hari-hari selanjutnya.
Dengan menunggu waktu sekitar 30 menit, ibu asuh saya menjemput saya.
Ibu
asuh saya bernama Ibu Supiyah. Rumah Ibu Supiyah terletak di dekat pekarangan.
Sebelah kiri dan depan rumah merupakan pekarangan dengan minim penerangan. Saya
membayangkan jika malam tiba pasti sangatlah gelap. Setibanya saya di rumah Ibu
Supiyah, saya disuguhi teh, pisang, dan jajanan-jananan pasar lainnya. Saya
serumah dengan Laura, Natasha, dan Pianka. 1 jam setelah kita tiba di rumah Ibu
Supiyah, kita diajak makan siang bersama.
Setelah
kita makan, kita beramah-tamah dengan Ibu Supiyah. Kesan pertama saya terhadap
Ibu Supiyah adalah wanita ini kaku dan tidak terlalu suka untuk berbicara. Ibu
Supiyah tinggal bersama anaknya yang bernama Koir. Tetapi anaknya tidak terlalu
sering berada di rumah. Suami Ibu Supiyah bekerja sebagai pegawai di Restoran
Porong yang menyebabkan ia jarang berada di rumah. Ibu Supiyah tidak mempunyai
pekerjaan, tetapi ia mempunyai 3 ladang. Terkadang, ia pergi ke ladangnya untuk
memanen tanaman yang telah ditanamnya.
Pada
pukul 3 sore, saya dan Natasha pergi ke rumah teman-teman kami karena kami
merasa bosan di rumah karena tidak ada pekerjaan. Kami bermain di rumah
teman-teman saya yang berjarak sekitar 500 m dari rumah saya. Kebetulan, di
dusun saya merupakan dusun yang paling terbanyak anak dari sekolah saya. Jadi
saya tidak merasakan kesepian. Setelah bermain dengan teman-teman saya sekitar
1 jam, saya pulang ke rumah untuk mandi dan segera bersiap-siap untuk pergi
kumpul di rumah Kepala Camat.
Air
di Dusun Tambakwatu ini sangatlah minim, karena dusun ini sangat kering
sehingga menyebabkan penduduk dusun ini untuk menyimpan air di bak-bak kamar
mandinya. Air di rumah saya sangat dingin sehingga menyebabkan saya untuk cepat
menyelesaikan mandi saya. Setelah saya mandi, saya pergi ke rumah teman saya.
Saya meninggalkan rumah pada jam 5, suasana saat itu sudah seperti malam hari,
yaitu mulai gelap dengan penerangan yang sangat minim.
Kami
pergi ke rumah Kepala Camat, di sana saya tidak seberapa mendengarkan apa yang
beliau katakan karena saya cukup mengantuk dan capek. Sepulang dari rumah
Kepala Camat, Natasha tidak berani pulang, karena ia takut. Begitu pula dengan
saya, jadi saya memutuskan untuk kabur dari rumah dan menginap di rumah teman
saya.
Hari Kedua
Pagi
harinya, saya bangun jam 5.30 dan langsung pulang ke rumah saya. Saya meminta
maaf kepada ibu asuh saya dan langsung membantunya memasak di dapur. Kami
memasak tahu goreng, indomie, dan telur mata sapi untuk sarapan kami. Setelah
makan, kami berangkat ke ladang Ibu Supiyah yang terletak di puncak gunung.
Kita menempuh perjalanan dengan waktu 15 menit dengan jalan kaki.
Setibanya
di ladang, kami langsung mengambil lombok yang telah ditanam oleh Ibu Supiyah
sedangkan ia memungut serpihan kayu yang berguna untuk pengganti minyak tanah.
Jadi ia tidak perlu menyiram minyak tanah pada kayu yang akan digunakan untuk
memasak, tapi cukup dengan membakar serpihan kayu tersebut. Setelah dirasa
cukup mengambil serpihan kayu dan lombok, kami pulang dan langsung mandi dan
beristirahat.
Pada
siang harinya kita tidak bekerja apapun dan hanya membantu Ibu Supiyah memasak,
Ibu Supiyah memasak udang dan tahu untuk dijadikan sebagai makan siang. Maka
saya membantu mengupas kulit udang dan masak di dapur Ibu Supiyah. Setelah kita
masak, kita langsung makan siang bersama dan langsung menyuci peralatan makanan
yang kita gunakan.
Sesudah
kita makan, kita pergi ke rumah tetangga-tegangga sebelah kita untuk meminta
tanda-tangan dan langsung pulang ke rumah untuk siap-siap bermain Treasure
Games. Saya penasaran dengan permainan ini, karena dari namanya sudah seperti
mencari harta karun dan penjelasan dari guru saya ketika di sekolah sangatlah
asik. Tetapi setelah kita bermain, jauh sekali dengan pandangan kita
seharusnya. Kita hanya bermain pipa, bambu, dan kelereng dan saya bingung, jika
bermain seperti itu dari mana kata Treasure nya.
Kita
pulang pada pukul 15.30 dan segera bersiap-siap ke Balai Desa untuk menghadiri
Farewell Party. Saya segera pulang, mandi, dan berkumpul di base camp. Pada
saat itu, banyak guru kami sedang berada di dusun saya. Lalu saya ikut kepala
Sekolah untuk pergi ke Desa Krai, kebetulan di desa tersebut ada teman-teman
saya dan saya ikut di Desa Krai pada sore itu. Kita berangkat ke Balai Desa
pada jam setengah 7 menggunakan bus.
Di
Balai Desa, kami disuguhi makanan malam, tetapi banyak dari kami yang tidak
makan karena sudah makan di rumah masing-masing. Kebetulan pada acara tersebut
saya sakit yang menyebabkan saya beristirahat di Balai Desa sedangkan
teman-teman saya melihat pertunjukkan kuda lumping dan atraksi-atraksi lainnya.
Pada malam itu, saya dibawa ke rumah guru saya karena saya sakit. Saya tidur
bersama Natasha di rumah guru saya.
Hari Ketiga
Pada
pagi harinya saya merasa cukup sehat sehingga saya pulang ke dusun saya dan
pulang ke rumah saya, saya mandi dan beristirahat di rumah saya. Setelah saya
mandi, kita makan pagi bersama-sama dengan sayur dan sisa makanan kemarin
siang, dan langsung mencuci peralatan makan kita. Pada hari itu, seharusnya
kita jelajah dusun, tetapi kegiatan itu bersifat tidak wajib jadi saya tidak
mengikutinya. Saya pergi keliling Desa Tambaksari dengan teman-teman saya
dengan mengendarai sepeda motor milik warga.
Pada
perjalanan ke Gunung Malang, saya bertemu dengan pendamping saya dan saya ikut
dengannya untuk keliling dusun ke dusun. Saya pergi ke Dusun Krai dan mengambil
foto siswa-siswa di tiap-tiap rumah.
Pada
jam setengah 12 saya kembali ke dusun saya dan langsung mengambil koper saya
dan berpamitan dengan ibu asuh saya untuk kembali ke Malang, setelah berpamitan
saya pergi ke base camp untuk mengumpulkan anak-anak dan mendata anak yang
sudah datang. Sekitar jam 1, kita semua sudah siap dan langsung pergi ke balai
desa menggunakan truk. Lalu kita pulang ke Malang dan sampai dengan selamat.
Menurut
saya, kegiatan live in ini berguna bagi tiap pribadi siswa. Tetapi ada anak
yang mendapatkan rumah bagus dan tidak mendapatkan pekerjaan yang berat dan di
rumah tidak mengerjakan apa-apa. Di rumah saya, saya termasuk orang yang tidak
mengerjakan apa-apa. Jadi saya kurang mendapatkan kesan live in yang
sebenarnya.
Di
kegiatan live in ini, kita belajar untuk menjadi orang sederhana dan apa
adanya, kita juga belajar bagaimana untuk berkomunikasi dengan orang yang belum
pernah kita kenal sebelumnya, kita juga harus berinteraksi dengan orang yang
tidak kita senal sebelumnya.




No comments:
Post a Comment