Wednesday, October 24, 2012

Elisabeth XIA1-17


Hari Pertama
            Pada tanggal 11-13 Oktober 2012, kami siswa-siswi kelas XI diharuskan mengikuti kegiatan Live In di Desa Tambaksari, Kabupaten Pasuruan. Kamis, 11 Oktober 2012 kami diharuskan kumpul di sekolah pukul 06.55, pada awalnya saya pikir akan langsung berangkat saat itu juga, tetapi kami berangkat pukul 09.00 lebih karena harus menunggu truk datang, dan kami juga harus mendengarkan instruksi terlebih dahulu dari pihak sekolah.
          Setelah menempuh perjalanan 1 ½ jam, akhirnya kami sampai di Desa Tambaksari. Kami tidak langsung didistribusikan ke home stay kami masing-masing, tetapi kami masih harus berkumpul di Balai Desa terlebih dahulu untuk mendapat pengarahan dan untuk mencicipi kue tradisional buatan warga sekitar. Karena didalam Balai Desa sangat panas, saya memutuskan keluar dan bermain dengan anak-anak kecil di lingkungan sekitar.
          Setelah kami mendapat pengarahan, akhirnya kami mulai didistribusikan ke home stay kami masing-masing. Saya serumah dengan Ajeng Kusuma, Maria Grace, dan Cindy Setiawan. Kami dijemput dengan sepeda motor dan kami diantar sampai ke home stay kami. Sedangkan teman-teman saya yang lain, yang berada di Dusun Ampelsari harus berjalan kaki menuju home stay mereka masing-masing.
          Saat saya tiba di home stay, saya sangat senang sekali, alasannya karena home stay saya tidak seburuk yang saya bayangkan pertama kali, dan malah lebih dari kata sederhana, serta home stay saya tidak ada hewan ternak dan justru ada toko. Selain itu yang membuat saya senang karena tetangga saya adalah Dewi Susanti dan Ayu Amelia. Saya pikir awalnya kami tetangga, ternyata setelah saya masuk ke rumah, rumah saya dan rumah Dewi bergabung di bagian tengahnya, dan itu pertanda bahwa kami serumah 6 orang, itulah yang membuat saya senang, karena rumah home stay saya menjadi ramai.
          Pertama kali saya datang, saya disambut oleh Pak Totok ( Bapak home stay saya), beliau sangat ramah dalam menyambut kedatangan saya dan teman-teman saya, kami pun disuguhi miler dan teh hangat. Pak Totok memiliki seorang putri bernama Tinta ( biasa dipanggil Titis dan berumur 4 tahun ), dan istrinya Ibu Yuni ( Ibu home stay saya ). Pada saat saya datang Ibu Yuni tidak ada, karena masih harus bekerja di koperasi dan pulang sore hari.
          Setelah kami bercengkrama di ruang tamu bersama Pak Totok, kami dipersilahkan menuju kamar kami masing-masing. Saya sekamar dengan Ajeng, sedangkan Grace sekamar dengan Cindy.
          Ketika makanan sudah siap, kami pun dipersilahkan untuk makan, dan kami makan bersama, saat itu saya mulai berkenalan dengan Amel, dan mulai dekat dengan Grace dan Cindy. Mereka sangat seru untuk diajak bercanda, selain itu mereka mudah sekali untuk diajak bekerjasama dalam membersihkan rumah, sehingga kami solid satu dengan yang lain, dan hanya dalam waktu beberapa jam saja kami sudah mulai akrab. Itu adalah salah satu pengalaman baru yang saya dapatkan di Live In. Sesi makan-makan selesai, dan kami pun mulai mencuci piring kami masing-masing.
          Waktu menjelang sore hari, saya dan teman-teman saya meminta izin ke Pak Totok untuk berjalan-jalan. Kami mengajak Titis jalan-jalan di lingkungan sekitar dan disamping itu saya jalan-jalan untuk mengetahui home stay teman-teman saya yang ada di Ampelsari.
          Beberapa jam kemudian, kami kembali ke home stay bersama teman-teman kami yang lain. Istilah jawanya “nonggo”, beberapa teman-teman saya datang, bercerita satu dengan yang lain di ruang tamu kami, sambil makan miler dan minum teh hangat bersama.
          Sebelum petang hari, teman-teman saya kembali ke home stay mereka masing-masing. Kami pun juga mulai membersihkan ruang tamu yang tadi kita pakai untuk kumpul-kumpul bersama dan satu persatu dari kami mulai mandi, dan beberapa mulai menyiapkan makanan.
          Setelah kami semua mandi dan makan, beberapa dari kami mencuci piring, dan membersihkan dapur. Tiba-tiba saat kami mulai santai-santai dan bercanda bersama, Novi dan teman-teman yang lain datang untuk menjemput kami, dan saat itu saya dan teman-teman saya bergegas untuk pergi ke Kepala Dusun untuk mendapat instruksi dan untuk sesi tanya jawab dalam rangka untuk lebih mengenal Dusun Ampelsari.
          Selesainya kami dari rumah Kepala Dusun, kami pun pulang ke rumah kami masing-masing dengan jalan memutar, sehingga Saya, Ajeng, Grace, Cindy, Dewi, dan Amel, adalah anggota yang terakhir pulang. Untung kami diantar oleh Mas Bambang, jika tidak kami akan lari terbirit-birit karena untuk menuju rumah kami harus melewati kuburan.
          Setelah itu kami sampai di home stay dan kami bertemu Ibu Yuni, yang baru pulang dari koperasi. Kami tidak dapat bercerita panjang lebar dengan Bu Yuni karena kami sudah ngantuk dan ingin sekali tidur. Akhirnya kami berpamitan kepada Pak Totok sekeluarga untuk tidur terlebih dahulu.
Hari Kedua
          Saya dan Ajeng bangun pukul 04.10, kami pun bergegas membersihkan kamar dan mulai membantu Ibu Yuni memasak. Saya mendapat bagian mengupas dan merajang bawang, sedangkan Ajeng mendapat bagian mengupas tela. Kami pun bekerja bersama-sama. Tiba-Tiba Dewi, Amel, Grace dan Cindy bangun, kami mulai membagi tugas masing-masing. Pekerjaan di dapur diserahkan pada Dewi, Amel dan Grace, menyapu  diserahkan pada saya, dan urusan mengepel diserahkan pada Cindy dan Ajeng.
          Setelah rumah bersih, kami mulai bergantian untuk mandi, sambil menunggu giliran mandi, Dewi,Grace,dan Saya memarut kelapa untuk membuat kolak, itu pengalaman pertama saya marut kelapa untuk membuat kolak. Setelah semua selesai mandi, tiba-tiba Mas Bambang datang untuk membagikan susu pada kami, susu diolah oleh Dewi, dan kami tinggal menunggu hasilnya. Kemudian kami makan bersama.
          Saat kami makan, Novi, Yuli dan Ivena datang untuk mengajak kami berkeliling dusun untuk meminta tanda tangan warga sekitar. Akhirnya kami bergegas makan dan bergegas mencuci piring. Dewi, Grace, Cindy, dan Amel tidak ikut bersama kami, mereka kecapekan dan memilih tidur siang. Akhirnya yang berangkat untuk mencari tanda tangan hanya saya dan Ajeng. Kami mulai berkeliling dusun, dimulai dari rumah Deva hingga ke rumah Ongky yang berada di ujung atas (dekat balai desa). Akhirnya pasukan pencari tanda tangan bertambah banyak dan kami mulai berkeliling bersama.
          Setelah kami berhasil mendapat 10 tanda tangan dari warga sekitar, beberapa dari kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat, sedangkan Veda, Deva, Ongky, Misael, dan Erwin mampir ke rumah saya untuk bercanda dan melepas lelah sebentar di teras depan. Kami pun makan kolak bersama, saat itu rasa kekeluargaan diantara kami sangat terasa dan itulah salah satu hal yang membuat saya senang, karena jarang sekali bagi kami untuk bercerita banyak seperti itu dan bercanda bersama.
          Setelah kami puas bercanda Deva, Veda, Ongky, Misael dan Erwin pulang ke rumah mereka masing-masing untuk makan siang, dan untuk mempersiapkan diri untuk acara treasure game.
          Setelah saya dan Ajeng membersihkan teras depan dan mencuci mangkok, kami pun makan bersama dan bersiap-siap untuk pergi ke lapangan di belakang Balai Desa. Pukul 13.20 saya dan Ajeng bersama anak-anak yang lain bergegas menuju ke lapangan di belakang Balai Desa. Tetapi saya sangat kecewa disitu, karena yang datang tidak lebih dari 15 anak pada waktu yang ditentukan. Dan yang lebih mengecewakan lagi hanya Novi koordinator satu-satunya yang datang tepat waktu. Sedangkan koordinator yang lain belum datang.
          Setelah semua anak sudah berkumpul, kami mulai membagi dalam 3 tim, yang masing-masing berisi 15 orang. Kami menjalankan berbagai game dan mulai menjelajahi dusun sesuai dengan peta yang diberikan Mas Bambang. Tetapi setelah berjalan 2 sesi, game dihentikan karena waktu yang tidak memungkinkan ( sebagian waktu habis untuk menunggu anak-anak datang). Akhirnya kami pulang ke rumah kami masing-masing.
          Sesampainya kami di rumah, kami mulai bergantian mandi. Dan sembari menunggu giliran mandi, beberapa dari kami beristirahat di kamar masing-masing. Setelah kami semua mandi, kami pun makan, dan mempersiapkan diri untuk acara farewell party.
          Setelah kami sudah siap kami pun pergi bersama menuju Balai Desa, sebelum itu kami harus berkumpul di rumah Ibu Dasiah ( Ibu home stay Stefani dan Yustina ) pukul 18.00 untuk mempersiapkan pertunjukan. Tetapi disana kami main sendiri dan tidak latihan, karena saya bosan akhirnya saya, Veda, dan Deva bermain dengan anak kecil disana yang bernama Adi ( anak Dusun Ampelsari yang berumur 3 ½ tahun ).
          Setelah waktu mendekati jam yang sudah ditentukan, kami pun bergegas menuju Balai Desa. Anak-anak dari Dusun Gunung Malang sudah tiba dengan menggunakan truk, disusul dengan Dusun Krai yang datang dengan bis, dan yang terakhir anak-anak dari Dusun Tambak Watu.
          Setelah kami semua kumpul di Balai Desa, kami makan bersama dengan sistem “pincuk”. Saya tidak makan, bukan karena saya tidak suka makanannya, tetapi saya sudah merasa lelah dan ngantuk, sehingga tidak kuat untuk berjalan dan mengantri makanan. Setelah kami semua makan, kami diminta untuk berkumpul di lapangan belakang untuk melihat kesenian tradisional masyarakat sekitar.
          Pertama kali yang dipertunjukkan adalah tari-tarian, setelah itu bantengan, dan kuda lumping. Saat itu saya terkesan, tapi saya terkesan takut, karena waktu bantengnya “ndadi”, bantengnya itu mengarah ke saya, sehingga saya buru-buru berdiri dan kabur, dan hal yang sama terjadi lagi saat pertunjukkan kuda lumping. Karena saya sudah kapok dan tidak berani lagi, akhirnya saya pindah ke belakang dan tidak konsen melihat pertunjukkan tetapi konsen melihat bintang. Tiba-tiba langit mendung dan gerimis, kami diminta untuk kembali ke Balai Desa untuk berteduh dan untuk pengabsenan.
          Akhirnya kami pulang ke rumah kami masing-masing, dan pertunjukkannya dihentikan. Sesampainya saya di rumah, saya pergi ke kamar mandi dan tiba-tiba lampu mati. Saya berteriak kepada anak-anak, tetapi mereka malah ngumpet bersama di ruang tengah dan Pak Totok tiba-tiba datang dan member penerangan dari luar. Setelah itu lampu menyala kembali, dan kami pun pergi ke kamar kami masing-masing untuk beristirahat.
Hari Ketiga
          Saya dan Ajeng bangun pukul 05.15, hari ini kami bangun lebih siang karena kami kecapekan setelah seharian kemarin kami tidak beristirahat di siang harinya. Seperti biasa, kami membersihkan kamar terlebih dahulu dan membantu Ibu Yuni menyiapkan sarapan.
          Tidak lama kemudian Dewi, Amel, Grace, dan Cindy bangun. Mereka mulai membagi pekerjaan rumah seperti biasa, saya tidak mendapat bagian karena saya sudah membantu memasak. Tiba-tiba Pak Totok datang dan mengajak saya untuk membeli tempe dan tahu dengan menggunakan sepeda motor di desa sebelah.
          Di tengah jalan ada sepeda motor yang mebawa keranjang berisi tempe, dan ternyata Pak Totok biasa membeli tempe di orang ini. Setelah membeli tempe kami melanjutkan perjalanan untuk membeli tahu dan baru kali itu saya tahu bagaimana pabrik tahu itu sebenarnya.
          Selama perjalanan, saya cukup kagum dengan Pak Totok karena selama perjalanan dari rumah ke rumah hingga ke desa seberang pun semua orang mengenal Pak Totok, dan itu yang mebuat saya kagum, beda sekali dengan di kota yang orang-orangnya cenderung individualisme dan tidak mengenal satu dengan yang lainnya. Setelah selesai membeli tempe dan tahu kami pun pulang.
          Sesampainya di rumah saya langsung mandi dan makan bersama teman-teman saya yang lain yang sudah menunggu saya. Setelah mandi kami bercengkrama sebentar dan mengajak main Titis. Setelah itu kami melanjutkan acara kami, yaitu jelajah dusun. Dan kami diminta untuk berkumpul di rumah Ibu Dasiah lagi, dan ternyata yang berkumpul hanya belasan orang. Akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan dan kami menuju ke Sumur Gemuling dan ke beberapa sumur yang lain.
          Setelah selesai jelajah dusun, kami pulang ke rumah kami masing-masing, karena Pak Totok tahu bahwa saya cukup kecewa dengan jelajah dusun yang diadakan, akhirnya Pak Totok mengajak saya untuk memanen degan di rumah lamanya dengan menggunakan sepeda motor.
          Sesampainya disana Pak Totok menunjukkan saya beberapa pohon, seperti pohon salak, durian, kopi, dan masih banyak lagi yang lain. Tidak beberapa lama kemudian Pak Totok segera mengambil degan. Pak Totok mengambilkan saya 7 butir degan. Yang 5 dibawa pulang untuk anak-anak, yang 1 saya makan, dan yang satu lagi untuk Tinta.
          Sesampainya di rumah, anak-anak sudah sibuk berkemas dan siap-siap menuju Balai Desa. Sebelum mereka ke Balai Desa mereka makan degan terlebih dahulu. Akhirnya kami berpamitan pulang dan mengucapkan terima kasih.
          Kami berjalan menuju Balai Desa, tetapi di tengah jalan Ajeng mengingatkan saya tentang selimut saya, akhirnya saya kembali ke home stay, hampir saya mau kembali ke home stay, Pak Totok membawa motor bersama adik dan adik iparnya untuk mengantarkan selimut saya. Setelah itu saya digonceng Pak Totok, Ajeng dan Grace bersama Adik Ipar Pak Totok, sedangkan Cindy dan Dewi bersama Adik Pak Totok. Kemudian kami diantarkan menuju ke Balai Desa.
          Setibanya di Balai Desa, belum ada 1 anak pun yang datang disana selain kita. Akhirnya kita menaruh barang-barang kita di Balai Desa, dan Pak Totok mengajak kami ke Dusun Tambak Watu. Selama perjalanan saya sangat senang, karena saya bias melihat suasana baru, dan bertemu beberapa teman saya yang ada disana. Pemandangan di Tambak Watu sangat indah dan sangat menakjubkan. Kami di ajak sampai awal pendakian menuju Gunung Arjuno. Dan inilah pengalaman yang sangat sangat mengesankan bagi saya dan yang tidak akan pernah saya lupakan sampai kapanpun.
          Kemudian kami diantar kembali ke Balai Desa, dan kami sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Pak Totok sekeluarga karena sudah begitu baik pada kami, dan menerima kami dengan hangat di rumahnya, dan menganggap kami seperti anaknya sendiri, Kami kemudian berkumpul di Balai Desa, penutupan, dan kembali ke sekolah.











No comments:

Post a Comment