Wow
! and Awesome! Itulah kata yang dapat menggambarkan keceriaan saya mengikuti
live in, yang baru pertama kali seumur hidup. Saya sangat bersemangat mengikuti
live in ini. Mendengar gambaran tentang desa, masyarakat, dan cara hidupnya
membuat saya sangat antusias.
Awalnya
ada rasa kekhawatiran, karena belum pernah mengikuti kegiatan ini sebelumnya,
apalagi hidup d masyarakat Jawa, sementara saya dari Sulawesi. Benar-benar
luarbiasa! Saya mengikuti semua prosedur yang di sarankan Pa Hendra, untuk
benar-benar menikmati hidup di desa, tanpa teknologi dan kemodernisasian.
Kami berangkat menggunakan truk,
menempuh perjalanan sekitar 1jam lebih, panas! Saya tidak kebagian tempat duduk
saat itu, jadi harus berdiri dengan beberapa anak laki-laki. Perjalanan yang
cukup melelahkan itu tidak mengurungkan niatku sedikit pun, sampai tiba di home
stay.
Hari pertama biasa saja, hanya
makan, mencuci piring, nyapu, kemudian mandi dan pergi ke rumah Kades. Malam
itu, saya selaku koordinator, berusaha mengumpulkan teman-teman, mencari yang
hilang, dengan hanya saya sendiri perempuan, 2 lainnya laki-laki. Sudah itu,
saya harus marah-marah karena teman-teman ribut. Badan saya penuh keringat.
Sepulang dari rumah pak Kades,saya
dan 3 orang teman lainya, bersama mbah Sutiyan dan mbah Putri, ikut bakar-nakar
ubi bersama mas Gogon dkk (pemuda dusun Gumal). Tidak begitu larut, kami pun
pergi beristirahat.
Hari kedua! Bangun pagi, ke dapur
untuk menyiapkan makan pagi, hmm dapurnya sangat tradisional, memakai tungku!
Asapnya kemana-mana, badan saya penuh arang. Setelah itu, kami sarapan, dan
pergi mengambil air. Whew! Capek! Panas! Berat! Hehe baru 1 kali mengambil air,
kemudian kami dibantu cucu Mbah yang berjumlah 5orang, bak mandi kami penuh !
:D
Farewell Party! Haha saya akan tertawa
sangat puas. Kami dijemput naik truk, di balai kota, kami diberi makan
menggunakan pincuk, makannya lagi-lagi tahu tempe :’( . selesai makan, kami
turun ke lapangan menyaksikan tarian penyambutan tamu agung hehehe.
Dibuka dengan tarian ..... ada 4
orang yang memainkan bantengan, sampai kesurupan, saya ketakutan dan
jerit-jerit setengah mati :’(. Tarian dilanjutkan dengan Kuda Lumping, saya dan
Chacha diajak untuk mencoba menari juga. Berhubung saya suka nari, jadi ikut
aja, padahal deg-degan.
Awal-awal menari, saya gak putus
mengucapkan doa salam Maria :’) hehe tapi akhir-akhirnya saya mulai enjoy.
Tiba-tiba..... Jiaaah! Mas-mas penari yang di depan saya kesurupan! Mama :’(
saya panik gak karu-karuan, Chacha juga langsung meletakan jaranannya d tanah
lalu ditinggal, saya masih ragu-ragu, takut kalau-kalau kudanya gak boleh
ditelantarkan, tapi saya panik! Akhirnya kudanya saya lemparkan ke tanah, dan
lari ke rombogan teman-teman.
Malam itu kami pulang larut malam,
jam 11 malam tepatnya. Mbah menunggu kami dengan sabar, raut wajah mereka
tampak begitu bahagia melihat kami pulang, kami terlalu lelah, tapi Mbah masih
ingin ngobrol dengan kami, ternyata Mbah juga sudah menyiapkan makan malam
untuk kami :’(. Tapi hari terlalu larut, kami memutuskan untuk beristirahat.
Malam itu saya tidak bisa tidur
sampai pagi, terbayang-bayang kuda lumping. Saya juga sedih, karena besok
harinya akan pulang, gak tega membayangkan Mbah yg kesepian lagi.
Pagi ini aku bangun jam 4 pagi
bersama Mbah lanang, teman-teman masih tertidur pulas meskipun sudah
dibangunkan berkali-kali hehehe mungkin mereka terlalu lelah. Saya membantu
Mbah memasak air, menyiapkan sarapan, kemudian membuat teh. Setelah itu,
membersihkan halaman rumah, kami duduk bertiga melihat matahari terbit, aku
melihat-lihat bunga-bunga milik Mbah. Mbah memberi bibit bunga untuk saya tanam
di malang, katanya “ini sedikit tanah dan kembang Gunung Malang”. Keharuan
terjadi di pagi itu.
Aku tidak punya waktu panjang hari
ini, jam 10 nanti, sudah meninggalkan home stay :’( . sisa waktu yang singkat
itu dimanfaatkan utuk ikut jelajah dusun bersama koordinator Pak Julianto dan 9
orang teman lainya kami menuju kebun teh melewati hutan pinus, 3km perjalanan
kami tempuh waktu itu.
Lewat jalan-jalan kecil yang curam, ada
tebing-tebing, panas, debu. Sepanjang jalan, saya banyak bertanya tentang apa
saja yang baru saya temukan di sana.
Pukul 12, setelah jelajah dusun,
saya kembali ke rumah sebentar, pamit pada Mbah, mereka menangis, kupeluk erat
Mbah Warmu, rabutku dibelai sambil menuturkan doa untukku. Ya Tuhan, tangisku
semakin menjadi-jadi. Truk sudah tiba, mengantar kami ke balai desa.
No comments:
Post a Comment