Tuesday, October 23, 2012

My Live In by Yupita Jevanska Atuna XIA1-46


Wow ! and Awesome! Itulah kata yang dapat menggambarkan keceriaan saya mengikuti live in, yang baru pertama kali seumur hidup. Saya sangat bersemangat mengikuti live in ini. Mendengar gambaran tentang desa, masyarakat, dan cara hidupnya membuat saya sangat antusias.
Awalnya ada rasa kekhawatiran, karena belum pernah mengikuti kegiatan ini sebelumnya, apalagi hidup d masyarakat Jawa, sementara saya dari Sulawesi. Benar-benar luarbiasa! Saya mengikuti semua prosedur yang di sarankan Pa Hendra, untuk benar-benar menikmati hidup di desa, tanpa teknologi dan kemodernisasian.
            Kami berangkat menggunakan truk, menempuh perjalanan sekitar 1jam lebih, panas! Saya tidak kebagian tempat duduk saat itu, jadi harus berdiri dengan beberapa anak laki-laki. Perjalanan yang cukup melelahkan itu tidak mengurungkan niatku sedikit pun, sampai tiba di home stay.
            Hari pertama biasa saja, hanya makan, mencuci piring, nyapu, kemudian mandi dan pergi ke rumah Kades. Malam itu, saya selaku koordinator, berusaha mengumpulkan teman-teman, mencari yang hilang, dengan hanya saya sendiri perempuan, 2 lainnya laki-laki. Sudah itu, saya harus marah-marah karena teman-teman ribut. Badan saya penuh keringat.
            Sepulang dari rumah pak Kades,saya dan 3 orang teman lainya, bersama mbah Sutiyan dan mbah Putri, ikut bakar-nakar ubi bersama mas Gogon dkk (pemuda dusun Gumal). Tidak begitu larut, kami pun pergi beristirahat.
            Hari kedua! Bangun pagi, ke dapur untuk menyiapkan makan pagi, hmm dapurnya sangat tradisional, memakai tungku! Asapnya kemana-mana, badan saya penuh arang. Setelah itu, kami sarapan, dan pergi mengambil air. Whew! Capek! Panas! Berat! Hehe baru 1 kali mengambil air, kemudian kami dibantu cucu Mbah yang berjumlah 5orang, bak mandi kami penuh ! :D
            Farewell Party! Haha saya akan tertawa sangat puas. Kami dijemput naik truk, di balai kota, kami diberi makan menggunakan pincuk, makannya lagi-lagi tahu tempe :’( . selesai makan, kami turun ke lapangan menyaksikan tarian penyambutan tamu agung hehehe.
            Dibuka dengan tarian ..... ada 4 orang yang memainkan bantengan, sampai kesurupan, saya ketakutan dan jerit-jerit setengah mati :’(. Tarian dilanjutkan dengan Kuda Lumping, saya dan Chacha diajak untuk mencoba menari juga. Berhubung saya suka nari, jadi ikut aja, padahal deg-degan.
            Awal-awal menari, saya gak putus mengucapkan doa salam Maria :’) hehe tapi akhir-akhirnya saya mulai enjoy. Tiba-tiba..... Jiaaah! Mas-mas penari yang di depan saya kesurupan! Mama :’( saya panik gak karu-karuan, Chacha juga langsung meletakan jaranannya d tanah lalu ditinggal, saya masih ragu-ragu, takut kalau-kalau kudanya gak boleh ditelantarkan, tapi saya panik! Akhirnya kudanya saya lemparkan ke tanah, dan lari ke rombogan teman-teman.
            Malam itu kami pulang larut malam, jam 11 malam tepatnya. Mbah menunggu kami dengan sabar, raut wajah mereka tampak begitu bahagia melihat kami pulang, kami terlalu lelah, tapi Mbah masih ingin ngobrol dengan kami, ternyata Mbah juga sudah menyiapkan makan malam untuk kami :’(. Tapi hari terlalu larut, kami memutuskan untuk beristirahat.
            Malam itu saya tidak bisa tidur sampai pagi, terbayang-bayang kuda lumping. Saya juga sedih, karena besok harinya akan pulang, gak tega membayangkan Mbah yg kesepian lagi.
            Pagi ini aku bangun jam 4 pagi bersama Mbah lanang, teman-teman masih tertidur pulas meskipun sudah dibangunkan berkali-kali hehehe mungkin mereka terlalu lelah. Saya membantu Mbah memasak air, menyiapkan sarapan, kemudian membuat teh. Setelah itu, membersihkan halaman rumah, kami duduk bertiga melihat matahari terbit, aku melihat-lihat bunga-bunga milik Mbah. Mbah memberi bibit bunga untuk saya tanam di malang, katanya “ini sedikit tanah dan kembang Gunung Malang”. Keharuan terjadi di pagi itu.
            Aku tidak punya waktu panjang hari ini, jam 10 nanti, sudah meninggalkan home stay :’( . sisa waktu yang singkat itu dimanfaatkan utuk ikut jelajah dusun bersama koordinator Pak Julianto dan 9 orang teman lainya kami menuju kebun teh melewati hutan pinus, 3km perjalanan kami tempuh waktu itu.
            Lewat jalan-jalan kecil yang curam, ada tebing-tebing, panas, debu. Sepanjang jalan, saya banyak bertanya tentang apa saja yang baru saya temukan di sana.
            Pukul 12, setelah jelajah dusun, saya kembali ke rumah sebentar, pamit pada Mbah, mereka menangis, kupeluk erat Mbah Warmu, rabutku dibelai sambil menuturkan doa untukku. Ya Tuhan, tangisku semakin menjadi-jadi. Truk sudah tiba, mengantar kami ke balai desa.
            Sedikit kata-kata di sana. Dengan singkat, kami kembali Malang. Pegalaman ini adalah yang terbaik dan terindah. Terimakasih Tuhan atas perjumpaan ini.










No comments:

Post a Comment