Tuesday, October 23, 2012

Live In Dusun Gunung Malang by Monica Beatrice Magaline XIA1-34


Berada di dusun gunung malang selama tiga hari dua malam merupakan pengalaman yang luar biasa.awalnya banyak ketakutan yang saya rasakan, saya takut kalau tidak bisa bergaul dengan warga di dusun disana dll, tapi ternyata saya salah, warga dusun gunung malang ramah-ramah dan murah senyum :D jadi saya bisa bergaul dengan mudah.

Di sana saya Tinggal di rumah keluarga bu Rusni, di rumah itu terdapat 5 anggota keluarga, yaitu Bu Rusni, Pak Sarnam, Nenek Sumiati, Zuan, dan Yubi. Menurut saya bu Rusni itu baik, suka tertawa, mudah di ajak curhatt, hehehhe, sedangkan suaminya bekerja sebagai penjaga villa di prigen jadi jarang pulang ke rumah. Sedangkan nenek merupakan ibu dari bu Rusni sendiri,menurut saya untuk orang yang sudah mendapat sebutan nenek berarti sudah sulit melakukan sesuatu, tapi semua pikiran saya itu lenyap setelah melihat nenek Sumiati, nenek sumiati merupakan seorang yang NELI alias nenek lincah!, hehehehe, ia lho beliau melakukan pekerjaan rumah dengan lincah, dan selalu tersenyum. Dan putra bu Rusni, Zuan berumur 12 tahun seorang siswa bangku sekolah dasar kelas 5, sedangkan Yubi baru berusia 2 tahun.

Begitu banyak hal baru yang saya pelajari disana, banyak hal yang saya anggap sepeleh, saya anggap gampang tapi ternyata tidak. Mulai dari memasak cara memasak yang baik dan benar menggunakan kayu bakar; apabila memasukan kayu bakar kedalam tungku tidak boleh sembarangan lho, bagian kayu yang lebih besar harus di masukan terlebih dahulu, menurut kepercayaan orang di dusun itu apa bila kita terbalik memasukannya nanti saat kita mempunyai anak, maka anak itu akan lahir terbalik, alias kaki yang terlebih dahulu keluar baru kepala iih serem kan?? Saya aja takut, setelah itu setiap kali masak dan mau masukin kayu saya mesti tanya dulu sama neneknya hehehe. Selain memasak saya juga belajar menggunakan sabit untuk memotong rumput, dan kayu-kayu yang ada di kebun nenek, dan hal  yang  sangat  berkesan bagi saya adalah jika mau mandi saya dan teman-teman harus mengambil air dari tendon terlebih dahulu dan itu harus bolak-balik, yah mungkin kedengarannya memang mudah, tapi kalau tendon yang di dekat rumah kering maka, saya dan teman-teman harus berjalan sejauh 1km untuk mengambil air. Tidak hanya bekerja, setiap jam 14.00 (jam pulang sekolah) saya dan Anne(teman serumah) juga merangkap peran sebagai guru lho, ya! Kami berusaha membantu, mengajari Zuan tentang pelajaran yang di ajarkan di sekolah nya, mengulang setiap materi yang ada, ternyata jadi guru itu juga seru lho.

Pada malam terakhir saat kami berada di desa tambak sari, kami di sambut oleh tarian “Kuda Lumping” yang merupakan tarian khas dari desa di sana, yah sedikit dag, dig, dug saat menonton pertunjukan tersebut karna para penari kuda lumping tersebut mengalami kerasukan roh-roh halus. Yang paling membuat saya bingung kok para penari itu mau ya di rasukin roh-roh seperti itu??. rupanya menurut warga sana kalau bisa menjadi penari kuda lumping, menjadi suatu kebanggaan sendiri buat mereka, makanya banyak sekali warga sana yang ikut sebagai penari kuda lumping itu. Ya mungkin  itu memang sudah menjadi kebiasaan/ adat di sana, dan tidak bisa di ganggu gugat.

Dan akhirnya pada hari terakhir, dimana saat-saat kami harus kembali ke Malang, Bu Rusni memeluk kami, dan mulai meneteskan air mata, tidak hanya bu Rusni, sang nenek dan Zuan pun ikut menangis, ya tapi itu lah yang harus terjadi di saat ada perjumpaan pasti ada perpisahaan. Satu hal yang saya benar-benar pelajari di keluarga ini, bahwa kebersamaan, berkumpul, canda tawa bersama dengan orang-orang  yang di cintai jauh, jauh, jaaauuhh lebih berharga, itu yang membuat saya semakin rindu dengan keluarga saya..

1 comment: