Berada
di dusun gunung malang selama tiga hari dua malam merupakan pengalaman yang
luar biasa.awalnya
banyak ketakutan yang saya rasakan, saya takut kalau tidak bisa bergaul dengan
warga di dusun disana
dll, tapi ternyata saya salah, warga dusun gunung malang ramah-ramah dan murah
senyum :D jadi saya bisa bergaul dengan mudah.
Di sana saya Tinggal di rumah keluarga bu
Rusni, di rumah itu terdapat 5 anggota keluarga, yaitu Bu Rusni, Pak Sarnam,
Nenek Sumiati, Zuan, dan Yubi. Menurut saya bu Rusni itu baik, suka tertawa,
mudah di ajak curhatt, hehehhe, sedangkan suaminya bekerja sebagai penjaga
villa di prigen jadi jarang pulang ke rumah. Sedangkan nenek merupakan ibu dari
bu Rusni sendiri,menurut saya untuk orang yang sudah mendapat sebutan nenek
berarti sudah sulit melakukan sesuatu, tapi semua pikiran saya itu lenyap
setelah melihat nenek Sumiati, nenek sumiati merupakan seorang yang NELI alias
nenek lincah!, hehehehe, ia lho beliau melakukan pekerjaan rumah dengan lincah,
dan selalu tersenyum. Dan putra
bu
Rusni, Zuan berumur 12 tahun seorang siswa bangku sekolah dasar kelas 5,
sedangkan Yubi baru berusia 2 tahun.
Begitu banyak hal baru yang saya
pelajari disana, banyak hal yang saya anggap sepeleh, saya anggap gampang tapi
ternyata tidak. Mulai dari memasak cara memasak yang baik dan benar menggunakan
kayu bakar; apabila memasukan kayu bakar kedalam tungku tidak boleh sembarangan
lho, bagian kayu yang lebih besar harus di masukan terlebih dahulu, menurut
kepercayaan orang di dusun itu apa bila kita terbalik memasukannya nanti saat
kita mempunyai anak, maka anak itu akan lahir terbalik, alias kaki yang
terlebih dahulu keluar baru kepala iih serem kan?? Saya aja takut, setelah itu
setiap kali masak dan mau masukin kayu saya mesti tanya dulu sama neneknya
hehehe. Selain memasak saya juga belajar menggunakan sabit untuk memotong
rumput, dan kayu-kayu yang ada di kebun nenek, dan hal yang sangat berkesan
bagi saya adalah jika mau mandi saya dan teman-teman harus mengambil air dari tendon
terlebih dahulu dan itu harus bolak-balik, yah mungkin kedengarannya memang
mudah, tapi kalau tendon yang di dekat rumah kering maka, saya dan teman-teman
harus berjalan sejauh 1km untuk mengambil air. Tidak hanya bekerja, setiap jam
14.00 (jam pulang sekolah) saya dan Anne(teman serumah) juga merangkap peran
sebagai guru lho, ya! Kami berusaha membantu, mengajari Zuan tentang pelajaran
yang di ajarkan di sekolah nya, mengulang setiap materi yang ada, ternyata jadi
guru itu juga seru lho.
Pada
malam terakhir saat kami berada di desa tambak sari, kami di sambut oleh tarian
“Kuda Lumping” yang merupakan tarian khas dari desa di sana, yah sedikit dag,
dig, dug saat menonton pertunjukan tersebut karna para penari kuda lumping
tersebut mengalami kerasukan roh-roh halus. Yang paling membuat saya bingung
kok para penari itu mau ya di rasukin roh-roh seperti itu??. rupanya menurut
warga sana kalau bisa menjadi penari kuda lumping, menjadi suatu kebanggaan
sendiri buat mereka, makanya banyak sekali warga sana yang ikut sebagai penari
kuda lumping itu. Ya mungkin itu memang
sudah menjadi kebiasaan/ adat di sana, dan tidak bisa di ganggu gugat.
Dan akhirnya pada
hari terakhir, dimana saat-saat kami harus kembali ke Malang, Bu Rusni memeluk
kami, dan mulai meneteskan air mata, tidak hanya bu Rusni, sang nenek dan Zuan
pun ikut menangis, ya tapi itu lah yang harus terjadi di saat ada perjumpaan
pasti ada perpisahaan. Satu hal yang saya benar-benar pelajari di keluarga ini,
bahwa kebersamaan, berkumpul, canda tawa bersama dengan orang-orang yang di cintai jauh, jauh, jaaauuhh lebih
berharga, itu yang membuat saya semakin rindu dengan keluarga saya..
Kelihatannya Live In-nya Seru :D
ReplyDelete