Tuesday, October 23, 2012

Dusun Tambakwatu, Desa Tambaksari by Yola XIA1-29


                Hal pertama yang saya pikirkan ketika mendengar kata “Live In” adalah “Hidup Susah”. Saya membayangkan selama tiga hari dua malam itu akan membuat saya tersiksa dan ingin cepat pergi dari sana. Akan tetapi, dengan kenyataan yang saya rasakan saat itu malah sebaliknya. Banyak pelajaran yang saya dapatkan ketika berada di sana dan itu sangat berpengaruh bagi hidup saya sampai sekarang ini.
                Di sana saya tinggal bersama dengan keluarga Ibu Cicik dengan suaminya yang bernama Bapak Sugiyanto dan kedua orang anak mereka. Di sana saya juga tinggal dengan 3 orang teman saya yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah. Hari pertama, ketika datang ke rumah Ibu Cicik, saya merasa lega karena rumah yang kami tempati tidak terlalu buruk seperti yang kami bayangkan. Malah sebaliknya, kami diberikan kamar yang sangat nyaman dan terasa seperti kamar sendiri. Saat pertama kali berinteraksi dengan keluarga itu, kami sudah disambut dengan sangat baik oleh pihak keluarga. Mereka sangat ramah, bahkan ketika kami baru tiba di rumah itu, kami sudah disuguhkan dengan berbagai macam cemilan dan minuman. Walaupun baru bertemu saya langsung merasa sudah seperti keluarga sendiri. Ibu Cicik sendiri memiliki 1 orang anak laki-laki yang masih SD. Saya melihat ketika suami Ibu Cicik sedang bercanda dengannya, saya menjadi teringat dengan masa lalu saya kerita masih kecil. Ayah saya juga sering bercanda seperti itu dengan saya, saya menjadi teringat betapa ayah saya sangat menyayangi saya sehingga saya pun bisa sampai sekarang ini. Dari kejadian itu saya mendapatkan pelajaran pertama, yaitu menjalin hubungan yang baik dengan keluarga. Sesibuk apapun kita, kita tidak boleh melupakan keluarga kita yang selalu mendukung dan mendoakan kita. Saya sadar bahwa selama ini saya jarang menelpon keluarga saya dan hanya mementingkan kepentingan sendiri.
                Di hari kedua, saya sudah bisa menikmati suasana dan keadaan di sana. Saya dan teman-teman yang juga tinggal di sana, dengan senang hati selalu membantu Ibu asuh kami di dapur. Kami pun sering berbagi pengalaman. Terkadang saya merasa sangat malas untuk mengerjakan hal-hal seperti itu. Tetapi setiap kali melihat teman-teman yang dengan gigih membantu Ibu asuh kami di dapur, saya pun mulai teringat dengan Ibu kandung saya yang ada di rumah. Saya membayangkan kalau ibu saya saat ini sedang melakukan hal seperti yang dilakukan Ibu Cicik di dapur, kemudian saya membayangkan saudara-saudara saya yang di rumah sedang membantunya. Saya berpikir jika saya sedang bersama Ibu kandung saya di rumah, apakah saya pantas bermalas-malasan seperti ini sedangkan yang lainnya sedang bekerja untuk kepentingan bersama termasuk untuk diriku sendiri.
Setelah membantu Ibu Cicik di dapur, kami bersama dengan teman-teman yang tinggal di rumah yang lain diajak untuk pergi ke ladang. Jaraknya sangat jauh dan cuaca pun sangat tidak mendukung. Saat itu tepat tengah hari dan panas matahari pun sangat menyengat. Ada beberapa dari teman kami, ketika kami berjalan-belum sampai seperempat perjalanan sudah menyerah dan balik berjalan menuju rumah mereka. Saya sendiri berencana untuk ikut pulang karena tidak tahan dengan teriknya panas matahari, tetapi karena melihat beberapa teman lain yang sangat bersemangat, begitu juga dengan orang tua asuh kami, saya pun melanjutkan perjalanan dengan mereka.
Kami sudah mencapai setengah perjalanan, kami ingin menlanjutkan perjalanan, tetapi karena cuaca panas yang tidak mendukung serta jalan yang menanjak, menghambat kami untuk melanjutkan perjalanan. Lagipula, persediaan minuman kami sudah habis. Jadi orang tua asuh kami memutuskan untuk kembali dan pulang ke rumah, daripada tenaga kami habis untuk naik ke atas dan tidak mampu lagi untuk pulang ke rumah. Tetapi saya tidak menyesal, karena saya bisa melihat pemandangan gunung yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya dan teman-teman pun dikenalkan dengan berbagai tanaman yang kami temukan selama perjalanan.
                Di hari ketiga, yaitu hari terakhir dimana kami harus pulang, kami menyempatkan diri terlebih dahulu untuk pergi berjelajah seperti kemarin. Kali ini bukan pergi ke ladang, tetapi pergi melihat benda-benda bersejarah yang ada di desa itu. Seperti halnya hari kemarin, cuaca saat itu sangat panas sekali dan banyak teman-teman kami yang merasa letih pada saat hari terakhir ini. Entah karena mereka disuruh bekerja oleh orang tua asuh mereka atau karena kegiatan lain. Melihat keadaan ini, Ibu Cicik yaitu koordinator di dusun kami sekaligus orang tua asuh dari saya mengizinkan mereka yang lelah untuk beristirahat dan tidak ikut berjelajah. Akhirnya hanya serempat dari kami yang tinggal di dusun ini lah yang pergi berjelajah untuk melihat tempat-tempat bersejarah. 
Saya merasa sangat lelah sekali, akan tetapi dengan rasa penasaran kami yang sangat tinggi terhadap tempat itu tidak membuat semngat kami patah untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini, perjalanannnya sedikit lebih ekstrim dari perjalanan kemarin. Akan tetapi, dengan kerja sama yang baik, kami dapat melaluinya hingga selamat sampai tujuan. Selama perjalanan kami diajarkan berbagai tips dan pengetahuan-pengetahuan lain selama di hutan. Hutan yang kami lalui sangat indah membuat kami lebih bersemangat lagi melanjutkan perjalanan walaupun jalannya sangat rumit.
Ketika sampai di tempat tujuan kami melihat tempat-tempat bersejarah yang ada di sana. Yang menjadi perhatian saya adalah goa kecil ada di sana. Konon, orang-orang yang pernah masuk ke goa itu tidak akan pernah kembali lagi, kecuali bagi orang-orang yang mempunyai ilmu khusus. Cerita itu pun selalu dipegang dan ditaati oleh orang desa sampai sekarang. Mereka juga percaya bahwa jika kita berdoa di depan goa itu, semua permohonan kita pasti akan terkabulkan. Saya dan teman-teman pun tertarik untuk berdoa persis di depan goa itu. Ibu Cicik mengatakan bahwa orang-orang yang berjelajah ke sini  tidak hanya berhenti untuk berdoa di situ saja, tetapi mereka akan malanjutkan perjalanan lagi dan berdoa di tempat selanjutnya, dan tempat-tempat itu lumayan jauh dari tempat kami berada. Lagipula waktu sudah menunjukkan lewat dari jam pulang yang sudah ditentukan. Pasti teman-teman yang tidak ikut tadi sudah bersiap-siap untuk pulang dan akan  merasa lelah karena terlalu lama menunggu kami. Akhirnya kami pun memtuskan untuk kembali tetapi melewati jalan pintas, dan jalan ini lebih ekstrim dari ketika kami datang tadi, karena banyak jalan curam yang harus kami lewati.
                Begitu banyak pengalaman yang saya dapatkan selama tinggal di desa ini. Saya pun merasa tidak menyesal sudah tinggal di sini. Pelajaran paling utama yang saya dapatkan adalah “bekerja keras”.  Untuk mencapai sesuatu harus dengan bekerja dan berusaha dan itu tidak boleh disertai dengan keluhan. Jika kita malas, itu akan menghambat semua pekerjaan dan usaha kita. Kita juga akan banyak membuang waktu yang sia-sia jika kita suka bermalas-malasan. Kemudian dalam berkomunikasi dengan orang lain itu juga sangat penting, karena kita tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Itu lah sebabnya kita harus menjalin hubungan yang baik dengan semua orang.




No comments:

Post a Comment