Hal
pertama yang saya pikirkan ketika mendengar kata “Live In” adalah “Hidup
Susah”. Saya membayangkan selama tiga hari dua malam itu akan membuat saya
tersiksa dan ingin cepat pergi dari sana. Akan tetapi, dengan kenyataan yang
saya rasakan saat itu malah sebaliknya. Banyak pelajaran yang saya dapatkan
ketika berada di sana dan itu sangat berpengaruh bagi hidup saya sampai
sekarang ini.
Di
sana saya tinggal bersama dengan keluarga Ibu Cicik dengan suaminya yang
bernama Bapak Sugiyanto dan kedua orang anak mereka. Di sana saya juga tinggal
dengan 3 orang teman saya yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah. Hari
pertama, ketika datang ke rumah Ibu Cicik, saya merasa lega karena rumah yang
kami tempati tidak terlalu buruk seperti yang kami bayangkan. Malah sebaliknya,
kami diberikan kamar yang sangat nyaman dan terasa seperti kamar sendiri. Saat
pertama kali berinteraksi dengan keluarga itu, kami sudah disambut dengan
sangat baik oleh pihak keluarga. Mereka sangat ramah, bahkan ketika kami baru
tiba di rumah itu, kami sudah disuguhkan dengan berbagai macam cemilan dan
minuman. Walaupun baru bertemu saya langsung merasa sudah seperti keluarga
sendiri. Ibu Cicik sendiri memiliki 1 orang anak laki-laki yang masih SD. Saya
melihat ketika suami Ibu Cicik sedang bercanda dengannya, saya menjadi teringat
dengan masa lalu saya kerita masih kecil. Ayah saya juga sering bercanda
seperti itu dengan saya, saya menjadi teringat betapa ayah saya sangat
menyayangi saya sehingga saya pun bisa sampai sekarang ini. Dari kejadian itu
saya mendapatkan pelajaran pertama, yaitu menjalin hubungan yang baik dengan
keluarga. Sesibuk apapun kita, kita tidak boleh melupakan keluarga kita yang
selalu mendukung dan mendoakan kita. Saya sadar bahwa selama ini saya jarang
menelpon keluarga saya dan hanya mementingkan kepentingan sendiri.
Di
hari kedua, saya sudah bisa menikmati suasana dan keadaan di sana. Saya dan
teman-teman yang juga tinggal di sana, dengan senang hati selalu membantu Ibu
asuh kami di dapur. Kami pun sering berbagi pengalaman. Terkadang saya merasa
sangat malas untuk mengerjakan hal-hal seperti itu. Tetapi setiap kali melihat
teman-teman yang dengan gigih membantu Ibu asuh kami di dapur, saya pun mulai
teringat dengan Ibu kandung saya yang ada di rumah. Saya membayangkan kalau ibu
saya saat ini sedang melakukan hal seperti yang dilakukan Ibu Cicik di dapur,
kemudian saya membayangkan saudara-saudara saya yang di rumah sedang
membantunya. Saya berpikir jika saya sedang bersama Ibu kandung saya di rumah,
apakah saya pantas bermalas-malasan seperti ini sedangkan yang lainnya sedang
bekerja untuk kepentingan bersama termasuk untuk diriku sendiri.
Setelah membantu Ibu Cicik di
dapur, kami bersama dengan teman-teman yang tinggal di rumah yang lain diajak
untuk pergi ke ladang. Jaraknya sangat jauh dan cuaca pun sangat tidak
mendukung. Saat itu tepat tengah hari dan panas matahari pun sangat menyengat.
Ada beberapa dari teman kami, ketika kami berjalan-belum sampai seperempat
perjalanan sudah menyerah dan balik berjalan menuju rumah mereka. Saya sendiri
berencana untuk ikut pulang karena tidak tahan dengan teriknya panas matahari,
tetapi karena melihat beberapa teman lain yang sangat bersemangat, begitu juga
dengan orang tua asuh kami, saya pun melanjutkan perjalanan dengan mereka.
Kami sudah mencapai setengah
perjalanan, kami ingin menlanjutkan perjalanan, tetapi karena cuaca panas yang
tidak mendukung serta jalan yang menanjak, menghambat kami untuk melanjutkan
perjalanan. Lagipula, persediaan minuman kami sudah habis. Jadi orang tua asuh
kami memutuskan untuk kembali dan pulang ke rumah, daripada tenaga kami habis
untuk naik ke atas dan tidak mampu lagi untuk pulang ke rumah. Tetapi saya
tidak menyesal, karena saya bisa melihat pemandangan gunung yang belum pernah
saya lihat sebelumnya. Saya dan teman-teman pun dikenalkan dengan berbagai
tanaman yang kami temukan selama perjalanan.
Di
hari ketiga, yaitu hari terakhir dimana kami harus pulang, kami menyempatkan
diri terlebih dahulu untuk pergi berjelajah seperti kemarin. Kali ini bukan
pergi ke ladang, tetapi pergi melihat benda-benda bersejarah yang ada di desa
itu. Seperti halnya hari kemarin, cuaca saat itu sangat panas sekali dan banyak
teman-teman kami yang merasa letih pada saat hari terakhir ini. Entah karena
mereka disuruh bekerja oleh orang tua asuh mereka atau karena kegiatan lain.
Melihat keadaan ini, Ibu Cicik yaitu koordinator di dusun kami sekaligus orang
tua asuh dari saya mengizinkan mereka yang lelah untuk beristirahat dan tidak
ikut berjelajah. Akhirnya hanya serempat dari kami yang tinggal di dusun ini
lah yang pergi berjelajah untuk melihat tempat-tempat bersejarah.
Saya merasa sangat lelah sekali,
akan tetapi dengan rasa penasaran kami yang sangat tinggi terhadap tempat itu
tidak membuat semngat kami patah untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini,
perjalanannnya sedikit lebih ekstrim dari perjalanan kemarin. Akan tetapi,
dengan kerja sama yang baik, kami dapat melaluinya hingga selamat sampai
tujuan. Selama perjalanan kami diajarkan berbagai tips dan pengetahuan-pengetahuan
lain selama di hutan. Hutan yang kami lalui sangat indah membuat kami lebih
bersemangat lagi melanjutkan perjalanan walaupun jalannya sangat rumit.
Ketika sampai di tempat tujuan
kami melihat tempat-tempat bersejarah yang ada di sana. Yang menjadi perhatian
saya adalah goa kecil ada di sana. Konon, orang-orang yang pernah masuk ke goa
itu tidak akan pernah kembali lagi, kecuali bagi orang-orang yang mempunyai
ilmu khusus. Cerita itu pun selalu dipegang dan ditaati oleh orang desa sampai
sekarang. Mereka juga percaya bahwa jika kita berdoa di depan goa itu, semua
permohonan kita pasti akan terkabulkan. Saya dan teman-teman pun tertarik untuk
berdoa persis di depan goa itu. Ibu Cicik mengatakan bahwa orang-orang yang
berjelajah ke sini tidak hanya berhenti
untuk berdoa di situ saja, tetapi mereka akan malanjutkan perjalanan lagi dan
berdoa di tempat selanjutnya, dan tempat-tempat itu lumayan jauh dari tempat
kami berada. Lagipula waktu sudah menunjukkan lewat dari jam pulang yang sudah
ditentukan. Pasti teman-teman yang tidak ikut tadi sudah bersiap-siap untuk
pulang dan akan merasa lelah karena
terlalu lama menunggu kami. Akhirnya kami pun memtuskan untuk kembali tetapi
melewati jalan pintas, dan jalan ini lebih ekstrim dari ketika kami datang tadi,
karena banyak jalan curam yang harus kami lewati.
Begitu
banyak pengalaman yang saya dapatkan selama tinggal di desa ini. Saya pun
merasa tidak menyesal sudah tinggal di sini. Pelajaran paling utama yang saya
dapatkan adalah “bekerja keras”. Untuk
mencapai sesuatu harus dengan bekerja dan berusaha dan itu tidak boleh disertai
dengan keluhan. Jika kita malas, itu akan menghambat semua pekerjaan dan usaha
kita. Kita juga akan banyak membuang waktu yang sia-sia jika kita suka
bermalas-malasan. Kemudian dalam berkomunikasi dengan orang lain itu juga
sangat penting, karena kita tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari
orang lain. Itu lah sebabnya kita harus menjalin hubungan yang baik dengan
semua orang.



No comments:
Post a Comment